pertanian

pertanian
selamat bekerja

Selasa, 27 November 2012

CERITA SEX ANAK SMA TERBARU 18+

Kejadiannya sangatlah lama, dan di ruangan terbuka yang dapat dikatakan udara cukup panas. Saat itu, tepat pukul 13:00. Pada waktu itu, kami melakukan beberapa kegiatan rutin yang biasa kami jalani setiap harinya.
SMA SEX
CERITA SEX

Pada pukul 15:00, acara Pramuka dibubarkan. Kamipun segera bergegas meninggalkan tempat tersebut. Aku setelah dari tempat itu, berniat pergi ke sebuah Multiplayer. Saat saya setiba di Sekolah, saya melihat seorang anak yang sedang mengintip ke dalam sebuah ruangan di dalam sekolah. Karena saya sedikit ada rasa curiga, maka saya memutuskan untuk mendekatinya. Ketika saya mendekatinya, perasaan saya merasa sedikit tidak enak. Karena itu, saya tidak jadi mendekatinya.

Tak lama kemudian, datanglah teman saya bernama Jetprak, anak yang selalu bermain bersama saya dan “sedikit rusak”. Saat itu, ia mengatakan, bahwa ada orang yang menitipkan barangnya di Lapangan Olahraga di Lantai 5. Karena ada rasa sedikit curiga, maka saya pergi ke sana untuk memastikan ada apa di sana.

Setelah saya tiba di sana, saya melihat ada sebuah kantongan di dekat sebuah panggung pergelaran. Sebelum saya beranjak untuk melihatn6ya, saya pastikan dulu, bahwa tidak ada jebakan. Setelah saya cek, ternyata tidak ada sama sekali jebakan. Lalu, sayapun segera melihat apa isi dari Barang tersebut.

Setelah saya pegang benda tersebut, saya buka kantongnya satu persatu. Ternyata, pembungkus benda tersebut sangatlah banyak, sehingga saya pusing untuk membukanya satu persatu. Sampai pada akhirnya, Kantonga itu habis terbuka pada bungkusan yang kelima puluh. Setelah saya lihat, ternyata isinya adalah berbagai macam foto-foto yang dapat dikatakan “rusak” dan berbagai macam alat KB dan Seks. Tetapi saya sempat bertanya keheranan “siapa dan untuk apa ini?”. Karena merasa tidak sopan, maka kukembalikan lagi kepada tempatnya. Setelah sekian lama, saya hanya menunggu sang waktu berlalu. Kebetulan pada saat itu tidak ada orang, maka saya bisa bersantai sejenak di sana.

Setelah sekian lama, saya ingat, bahwa saya akan bertanding lomba Catur antar 1 Sekolah. Saat itu, saya telah mencapai Final, dan lawan saya yang berikutnya, adalah Fahris (Sekarang ia anggota Dark Falcon). Karena tidak ada orang, maka saya berlatih sendiri di tempat itu. (avid internisti)

Sesudah saya berlatih selama 1 jam, saya merasa kelelahan. Maka, saya putuskan untuk beristirahat dengan melakukan Break Dance. Beberapa waktu yang lalu, saya diajarkan oleh salah seorang teman saya untuk berlatih Break Dance, seperti Salto, Rolling, Hip Hop, dan lain sebagainya. Akan tetapi, saya tertarik akan salah satu gerakan yang sangat sukar, yaitu Tornado Roll (Rolling di Udara).

Karena saat itu tidak ada orang, saya iseng untuk mencobanya dengan naik di atas tiang penyangga. Saat itu, saya menaikinya dengan memanjatnya. Saat saya akan melakukannya, tiba-tiba ada 2 orang yang masuk ke ruangan itu. Tidak disangka, itu adalah Fahris, lawan Finalku nanti, dan yang satu lagi, adalah anak yang terdapat di Foto-foto yang kulihat tadi, karena namanya cukup panjang, sebut saja NT.

Karena tempat itu cukup luas, saya mencoba untuk mendengarkan suara mereka dengan mendengarkan gemanya. Kulihat Fahris mulai membuka kantongan tersebut, dan “Lihat, sekarang kamu percaya kan? Aku ini tidak pernah berbohong, jangan macam-macam kamu!” kata Fahris.

“Ih.. kamu kok jahat! Awas, nanti aku adukan ke guru lho!” sambung NT.
“Mangkanya, lebih baik kamu harus tunduk kepadaku, atau..” pembicaraan terpotong.
“Atau apa hah?” teriak NT agak keras.
“Atau aku Renggut Keperawananmu!” Teriakan Fahris menggelegar.
“Jangan macam-macam kamu, cepat serahkan!” NT meneruskan.
Belum sempat NT bergerak, Fahris sudah menerjang NT dan langsung menelanjangi NT dengan kasarnya.

“Ah.. Jangan Far.. Jangan!!” Teriakan NT keras sambil menangis tersedu-sedu.
“Segera kuambil keperawananmu!!” Lanjut Fahris.
Fahrispun memulai aksinya dengan sangat gesit, ia melakukan ML pemanasan dengan rasa sangat Hot. Tetapi, aku berusaha untuk tetap berada di langit-langit meskipun aku hanya bertumpu dengan Tiang datar dengan lebar 30 cm.

Setelah ia melakukan pemanasan, iapun akhirnya siap untuk memulai aksi tergilanya.
“Ah.. jangan far.. jangan ambil keperawananku.. tolonglah..” pelas NT.
Tetapi, Fahris tidak mempedulikan perkataannya, dan akhirnya, iapun melakukan seks dengan NT.
“Earrgghh..” Teriak NT begitu batang kemaluan Fahris memasuki liang senggama nya.
Setelah itu, Fahripun mulai melakukan penggesekan terus menerus sampai ia berhenti setelah menit kesepuluh.

“Bagaimana, enak kan, mangkanya, jangan coba-coba!” kata Fahris puas.
Setelah itu, Fahrispun mulai kembali melancarkan aksinya untuk kembali melakukan persetubuhan.
Selama mereka melakukan persetubuhan, NT terus mengerang-erang kesakitan
“Eng.. eugh.. ough.. aekh.. eakh.. eikh.. oekh..” Desahan NT turut membuatku terangsang. Tetapi, karena pada saat itu, aku belum pernah bermasturbasi, maka aku diam saja dan terus menyaksikan.

Setelah sekian lama, akhirnya mereka berhenti dan tertidur lemas. Sepertinya, mereka telah Orgasme bersama, dan kulihat NT berdarah. Mungkin ia telah kehilangan keperawanannya. Karena kesempatan tidak ada orang, maka sayapun segera mengambil kamera, dan menfoto beberapa foto yang membuktikan Fahris bersalah. Setelah itu, sayapun berniat kabur melalui Jendela Ventilasi di dekatku.

Ketika hendak keluar, aku mendengar ada suara gebrakan. Setelah kulihat ada sumber suara tersebut, tenyata itu adalah Gloria yang masuk lewat Pintu dan terjatuh dan kakinya mengenai Lantai dan sepertinya ia Lumpuh sementara (Paralyze). Seketika itu pula, bangunlah Fahris dalam keadaan segar bugar seperti tidak sehabis bercinta. Iapun mendekati Gloria.

“Hai, cewek, kamu sudah melihat perbuatan kami ya?” kata Fahris.
“Lihat apa? Aku baru saja masuk ke ruangan ini.” jelas Gloria.
“Jangan bercanda, lagipula kamu kan juga mengintip aku saat bercinta dengan SOS tadi kan di kelas” lanjut Fahris.

“Kamu jangan macam-macam. Aku tak tahu!” sangkal Gloria.
“Sudah, lebih baik kamu bercinta juga saja denganku!” Perintah Fahris.
“Jangan.. jangan sentuh aku.. jangan..” Teriak Gloria.
Karena aku tidak tega melihat Gloria yang begitu Cantik dan Seksi yang masih perawan, akupun berbuat nekat. Entah apa yang merasuki pikiranku, aku langsung saja melompat menuju ke Fahris dan melakukan Tornado Roll. Dan akhirnya, berhasil, sayapun berhasil menghajarnya dan membuatnya pingsan. Akan tetapi, akupun langsung lumpuh total seketika. Tetapi, saya belum menyerah. Sayapun memberikan Kamera yang saya gunakan untuk menfoto Fahris dan NT tadi. Dan akhirnya, akupun pingsan.

Keesokan harinya, aku terbangun di atas tempat tidur. Aku melihat sekelilingku, dan ternyata, aku berada di rumah sakit. Akupun segera berbaring kembali, tetapi tidak tidur. Karena keluargaku jauh dariku, maka tidak ada sama sekali yang datang menjengukku. Saya sangat merasa sedih saat itu. Tidak lama kemudian, Gloria datang dan menghampiriku. Ia berjalan seperti orang normal. Aku pikir Paralyzenya sudah sembuh.

“Ali, apakah lukamu masih sakit?” tanyanya.
“Tidak juga sih, tapi sudah mendingan.” sahutku.
“Eh, terima kasih ya, kamu sudah menolongku pada saat itu.” ucapnya
“Ah, tidak apa-apa. Aku memang sudah biasa melakukannya.” jawabku seenaknya.
“Lantas mengapa NT pada saat itu tidak kamu tolong?” tanyanya.
Waduh, mati aku. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku membedakan sesama manusia (dalam arti Gloria dan NT). Lalu akupun menemukan jawaban sempurna.
“Oh, pada saat itukan Fahris masih dalam keadaan Fit, jadi aku tidak mungkin dapat menghadapinya secara fisik.”
“Kalau mental?” tanyanya lagi.
“Itu mungkin saja dapat kuatasi. Oh ya, bagaimana dengan kejuaraan catur hari ini? Aku kan tidak dapat ikut?” tanyaku.

Gloriapun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ternyata, ia mengeluarkan kameraku dan kertas yang menyatakan bahwa aku langsung memenangkan pertandingan karena Fahris melakukan perbuatan yang tidak terhormat. Akupun merasa lega, dan akhirnya akupun bertanya lagi.
“Bagaimana pendapatmu?” tanyaku.
“Yah.. hebat.. boleh juga..” katanya.
Entah apa yang menghantui pikiranku, akupun menyatakan cinta padanya, tetapi ia menjawab
“Waduh, jangan dulu ya, aku masih belum mau pacaran, lain kali saja ya. Sementara ini, ayo kita berteman dan melakukan petualangan bersama di Sekolah.”
“Jadi, kamu juga suka menyusup ya?” tanyaku.
“Iya, sejak kecil, aku suka sekali berpetualang, jadi, kamu kan juga sama, mari kita satukan hobi kita bersama.” jelasnya.

Itulah dia 

Menengok keberhasilan pembangunan lahan kritis di Kabupaten Gunung Kidul





Cerita Kabupaten Gunung Kidul sering terdengar tatkala musim kering tiba, dengan berita kekeringan dan kekurangan air, selain cerita tingkat kemiskinan yang masih tinggi, dibalik itu semua ternyata pemerintah daerah dan masyarakat dengan melibatkan akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada serta dukungan pihak-pihak lainnya tengah berupaya keras mengatasi persoalan-persoalan yang ada, diantaranya dengan upaya pembangunan di bidang kehutanan dan menempatkan pembangunan kehutanan menjadi bagian penting (sub sistem) dari pembangunan wilayah, kesungguhan ini ditunjukan dengan merubah lahan kritis (areal berbatu dan gersang) menjadi areal yang ditumbuhi vegetasi dan diperolehnya Sertifikat Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari dari PT.TUV Internasional dengan standar Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) yaitu desa Kedungkeris kec. Nglipar, desa Dengok kec. Playen dan desa Girisekar kec. Panggang. Karena itu lebih jauh tujuan pengelolaan hutan adalah untuk ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat .
Karakteristik kabupaten Gunung Kidul
Kabupaten Gunung Kidul memiliki luas wilayah 1.485,36 Km², atau sekitar 46,63 % (hampir separuh) luas Propinsi D.I Yogyakarta, menurut wlayah administratifnya dibagi dalam 18 Kecamatan dan 144 desa, secara biofisik kabupaten Gunung Kidul dikenal sebagai daerah tandus dengan lahan berbatu dan identik dengan kekeringan dan kemiskinan. Luas lahan kritis aktual adalah 15. 611 ha dan dari jumlah penduduk 758.886 jiwa, sebanyak 68,63 % bermata pencaharian sebagai petani dengan kepemilikan lahan <>
Dengan tantangan alam yang keras mendorong masyarakat Gunung Kidul lebih mandiri dan responsif terhadap perubahan, hal ini sejalan dari VISI kabupaten Gunung Kidul “ Menjadi pemerintah daerah yang baik dan bersih, responsif untuk mendukung terwujudnya masyarakat mandiri dan kompetitif” dan salah satu MISI penting yang ingin dicapai adalah : Mewujudkan pengembangan dan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) wilayah yang berwawasan lingkungan dengan pendekatan kewilayahan.
Tidak sekedar pembangunan kehutanan tetapi pembangunan wilayah
Pengelolaan sumber daya hutan saja tidak cukup, karena masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan hidup juga perlu dirancang secara terstruktur dalam setiap rencana pembangunan hutan. Pengelolaan sumber daya hutan, walaupun sudah memperhatikan keanekaragaman hayati dan kepentingan rakyat setempat, masih dikembangkan dengan titik berat untuk memenuhi fungsi ekonomi.
Sesuai dengan kodratnya, peranan pohon yang paling utama adalah untuk menjaga ekosistem permukaan planet bumi ini, oleh karena itu, dengan semakin banyaknya jumlah penduduk serta produk teknologi, fungsi lindung akan menjadi lebih penting dibanding dengan fungsi ekonomi yang diharapkan dari hutan. Dalam kondisi seperti itu, tidak mustahil bahwa fungsi ekonomi akan berubah menjadi hasil sampingan (side products) sedang hasil utama yang diharapkan dari hutan adalah fungsi perlindungan lingkungan.
Begitupun yang tampak di Kabupaten Gunung Kidul tidak hanya pembangunan kehutanan pada lahan kritis, lebih dari itu pembangunan yang tampak adalah sebuah design pembangunan wilayah, perubahan yang tampak secara kasat mata memperlihatkan pembangunan yang terintegrasi dan gradual yang dimulai dari pembangunan kehutanan yang telah menampakan hasil, sebagian lahan berbatu telah berhasil direhabilitasi menjadi lahan yang ditumbuhi vegetasi, tentu masyarakat Gunung Kidul tidak melakukannya sendirian, inisiasi teknologi rehabilitasi melibatkan akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, serta dukungan Pemerintah Daerah Gunung Kidul. Dengan tantangan alam yang keras disadari oleh masyarakat maupun pemerintah daerahnya untuk membangun Kabupaten Gunung Kidul adalah tidak mungkin tanpa diawali kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.
Kesadaran masyarakat yang tinggi untuk mendukung pembangunan kehutanan sebagai bagian dari pembangunan wilayah di kabupaten Gunung Kidul, telah mendorong masyarakat untuk terlibat secara penuh di dalam pengelolaan hutan, dengan beberapa hal yang menjadi ciri pokoknya :
a. Pembangunan kehutanan ditempatkan sebagai bagian (sub sistem) dari sistem pembangunan wilayah, karena kenyataanya bahwa pengelolaan hutan tak dapat dipisahkan dari pengaruh faktor sosial.
b. Karena titik (a) tersebut, maka tujuan pengelolaan hutan adalah untuk ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c. Untuk dapat merumuskan tujuan pengelolaan hutan yang relevandengan kondisi wilayah dan kepentingan masyarakat, maka prosedur perencanaan dimulai dari identifikasi masalah pembangunan wilayah dengan disertai informasi yang jelas (data kuantitatif). Prosedur perencanaan dimaksud tersebut merupakan perencanaan holistik karena memandang hutan sebagai bagian (sub sistem) dari sistem pembangunan wilayah.
d. Setelah masalah pembangunan wilayah dapat dirumuskan, langkah berikutnya adalah merumuskan sistem pengelolaan hutan yang dapat ikut menjawab masalah pembangunan wilayah tersebut. Untuk itu perumusan sistem pengelolaan hutan harus berusaha agar :
1) Memaksimumkan produksi kayu, termasuk kayu bakar, agar perusahaan hutan tetap dapat memperoleh keuntungan yang layak sehingga pengelolaan hutan dapat berjalan dengan sehat.
2) Memaksimumkan hasil hutan non kayu yang dapat digunakan untuk menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat di sekitar hutan.
3) Mempertahankan atau membina perananan hutan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup serta perlindungan terhadap sumber genetik asli, terutama yang sudah langka, baik flora maupun fauna.
Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan
Peran serta membangun hutan tanaman telah ditunjukan secara nyata oleh masyarakat setempat melalui pengembangan hutan tanaman rakyat yang dibantu melalui APBD (s.d tahun 2006) seluas 2.080 ha, APBN (s.d tahun 2006) seluas 5.095 ha melalui Program GERHAN, swadaya masyarakat melalui kegiatan penghijauan swadaya mencapai luas 22.476 ha dan peran serta BUMN Peduli Penghijauan seluas 500 ha.
Ditengah cerita rendahnya tingkat keberhasilan pelaksanaan penanaman GERHAN di beberapa daerah, Gunung Kidul justru menunjukan tingkat keberhasilan tanaman yang cukup tinggi, masyarakat menyadari GERHAN merupakan bagian pembangunan kehutanan yang akan memberikan keuntungan pada masyarakat, tidak hanya keuntungan finansial lebih dari itu adalah fungsi lindung, hal ini tentunya tidak sekedar karena Gunung Kidul merupakan titik awal pencanangan GERHAN yang ditandai oleh penanaman simbolis oleh Presiden Megawati dan Taufik Kiemas, tetapi lebih dari itu karena tantangan alam yang keras serta adanya kesungguhan masyarakat dan pemerintah daerahnya untuk membangun kehutanan sebagai sebuah Sumber Daya.
Kegiatan pembangunan kehutanan lainnya ditunjukan dengan program HKm yaitu kegiatan reboisasi di dalam kawasan hutan dengan luas 1.087,65 ha dari luas areal yang dicadangkan 4.168 ha dengan sasaran 35 kelompok tani HKm, dimana pada tahun 2003 dan 2004 telah mendapat izin sementara pengelolaan dari Bupati Gunung Kidul dalam jangka waktu 5 tahun. Kegiatan penghijauan sempadan pantai sepanjang 64,4 km, penghijauan lingkungan puncak seribu untuk melestarikan kawasan karst pengunungan seribu seluas 100 ha, penghijauan tanah AB seluas 500 ha dan penanaman pada lingkungan pendidikan melalui program Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM).
Sertifikasi pengelolaan hutan rakyat
Berbeda dengan hutan alam maupun hutan tanaman monokultur, hutan rakyat dikembangan dengan budidaya manusia yang sangat intensif. Hutan rakyat yang dimaksudkan disini ditanam campur dengan tanaman semusim penghasil pangan, sayur-sayuran maupun tanaman keras penghasil buah-buahan. Bergantung pada luas pemilikan lahan, tenaga kerja keluarga, pekerjaan pokok maupun sampingan, serta keadaan fisik lahan, hutan rakyat di daerah Gunung Kidul dapat dikelompokan menjadi tiga macam, yaitu (Munawar, 1984) :
1. Pohon-pohon hanya ditanam sepanjang batas lahan milik, sedang sebagian besar lahan ditanami dengan tanaman semusim, khususnya penghasil pangan.
2. Pohon-pohonan ditanam sepanjang batas lahan milik dan teras untuk mengendalikan erosi, dan diantara teras ditanami dengan tanaman semusim penghasil pangan atau sayur-sayuran.
3. seluruh bidang lahan ditanami dengan pohon-pohonan saja, karena tanahnya kurus, berbatu-batu, miring atau memang pemiliknya memiliki lahan yang cukup luas sehingga tidak tergarap.
Khususnya untuk bentuk hutan rakyat yang pertama dan kedua, berarti tanah relatif subur dan datar. Disini ada upaya pengerjaan tanah, yang dilakukan secara intensif oleh pemiliknya, yang sebenarnya hanya ditujukan untuk kepentingan tanaman semusim saja. Tetapi pengerjaan tanah yang menjaga aerasi tersebut, ditambah dengan masukan pupuk kimia maupun kompos, juga berdampak positif terhadap kesuburan pertumbuhan pohon-pohonan. Oleh karena itu, kualitas ekosistem hutan rakyat semakin lama malah akan semakin baik.
Keberhasilan dalam mewujudkan Pengembangan hutan rakyat lestari (HRL) di Kabupaten Gunung Kidul ditunjukan dengan diperolehnya Sertifikat Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari dari PT.TUV Internasional dengan standar Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) yaitu desa Kedungkeris kec. Nglipar, desa Dengok kec. Playen dan desa Girisekar kec. Panggang. Kegiatan Sosialisasi HRL terus ditingkatkan, pada tahun 2007 direncanakan pada 69 desa dan pada tahun 2008 direncanakan pada 72 desa. Untuk menuju Sertifikasi HRL program ini didukung dengan Pokja HRL yang melibatkan berbagai unsur : Pemerintah Daerah, LSM Tokoh Masyarakat dan Kelompok Tani. Keberhasilan ini didukung adanya pemberdayaan kelembagaan yaitu pemberdayaan aparatur melalui penataan kelembagaan, pemberdayaan masyarakat melalui penguatan kelembagaan dalam rangka peningkatan partisipasi masyarakat dalam RHL, sampai saat ini terdapat 821 kelompok tani hutan di kabupaten gunung kidul, peningkatan kerjasama dengan stakeholders seperti Perguruan Tinggi, LSM dan pihak-pihak swasta yang terwadahi dalam Pokja.
Permasalahan dan tantangan yang dihadapi
Pada kenyataannya dalam pembangunan kehutanan di kabupaten Gunung Kidul, terdapat beberapa kendala dan tantangan seperti :
1. Kondisi geografis dan iklim spesifik (bulan kering lebih panjang);
2. Kebutuhan hidup masyrakat relatif masih tergantung pada hasil hutan biasanya menebang pohon untuk dijual kayunya pada saat membutuhkan (tebang butuh);
3. Belum adanya pengaturan hasil hutan rakyat secara definif;
4. Terbatasnya pengetahuan, keterampilan dan permodalan kelompok tani dalm pengolahan hasil;
5. Masih banyaknya pengelolaan lahan oleh masyarakat yang tidak mengindahkan kaidah konservasi sebagai akibat kepemilikan lahan yang sempit;
6. Pengembangan hutan rakyat baru mencapai kurang lebih separuhnya dari potensi hutan rakyat seluas 50.144 ha.
Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi/mengurangi permasalahan yang ada, diantaranya dengan cara :
  1. Memprioritaskan lahan kritis sebagai sasaran kegiatan dengan pendekatan wilayah yang rawan kemiskinan dengan pengembangan tanaman bibit unggul;
  2. Menyusun dan melaksanakan pentahapan dalam pembangunan kehutanan Gunung Kidul yang meliputi : Asal Hijau (dengan tanaman kayu-kayuan jeins pionir), Hijau Plus (dengan bibit unggul bersertifikat, jenis kayu mewah) dan mandiri (masyarakat secara swadaya dapat mengelola SDH dan lahan secara lestari dan mandiri).
  3. Kerjasama lintas sektoral :
a. Kerjasama antara Dishutbun dengan Dinas pendidikan untuk memasukan masalah lingkungan (hutan dan kehutanan) dalam kurikulum Sekolah Dasar.
b. Kerjasama antara Dishutbun dengan Kantor Depag dengan membuat ketentuan bagi calon pengantin yang akan menikah, harus menyerahkan 5 bibit tanaman kepada pihak Balai Nikah untuk seterusnya penanamannya diatur oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gunung Kidul.
Hal ini tiada lain untuk membangun kesadaran masyarakat sejak dini akan pentingnya lingkungan hidup.
Oleh : Abdul Kodir Mancanagara

Menengok keberhasilan pembangunan lahan kritis di Kabupaten Gunung Kidul





Cerita Kabupaten Gunung Kidul sering terdengar tatkala musim kering tiba, dengan berita kekeringan dan kekurangan air, selain cerita tingkat kemiskinan yang masih tinggi, dibalik itu semua ternyata pemerintah daerah dan masyarakat dengan melibatkan akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada serta dukungan pihak-pihak lainnya tengah berupaya keras mengatasi persoalan-persoalan yang ada, diantaranya dengan upaya pembangunan di bidang kehutanan dan menempatkan pembangunan kehutanan menjadi bagian penting (sub sistem) dari pembangunan wilayah, kesungguhan ini ditunjukan dengan merubah lahan kritis (areal berbatu dan gersang) menjadi areal yang ditumbuhi vegetasi dan diperolehnya Sertifikat Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari dari PT.TUV Internasional dengan standar Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) yaitu desa Kedungkeris kec. Nglipar, desa Dengok kec. Playen dan desa Girisekar kec. Panggang. Karena itu lebih jauh tujuan pengelolaan hutan adalah untuk ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat .
Karakteristik kabupaten Gunung Kidul
Kabupaten Gunung Kidul memiliki luas wilayah 1.485,36 Km², atau sekitar 46,63 % (hampir separuh) luas Propinsi D.I Yogyakarta, menurut wlayah administratifnya dibagi dalam 18 Kecamatan dan 144 desa, secara biofisik kabupaten Gunung Kidul dikenal sebagai daerah tandus dengan lahan berbatu dan identik dengan kekeringan dan kemiskinan. Luas lahan kritis aktual adalah 15. 611 ha dan dari jumlah penduduk 758.886 jiwa, sebanyak 68,63 % bermata pencaharian sebagai petani dengan kepemilikan lahan <>
Dengan tantangan alam yang keras mendorong masyarakat Gunung Kidul lebih mandiri dan responsif terhadap perubahan, hal ini sejalan dari VISI kabupaten Gunung Kidul “ Menjadi pemerintah daerah yang baik dan bersih, responsif untuk mendukung terwujudnya masyarakat mandiri dan kompetitif” dan salah satu MISI penting yang ingin dicapai adalah : Mewujudkan pengembangan dan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) wilayah yang berwawasan lingkungan dengan pendekatan kewilayahan.
Tidak sekedar pembangunan kehutanan tetapi pembangunan wilayah
Pengelolaan sumber daya hutan saja tidak cukup, karena masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan hidup juga perlu dirancang secara terstruktur dalam setiap rencana pembangunan hutan. Pengelolaan sumber daya hutan, walaupun sudah memperhatikan keanekaragaman hayati dan kepentingan rakyat setempat, masih dikembangkan dengan titik berat untuk memenuhi fungsi ekonomi.
Sesuai dengan kodratnya, peranan pohon yang paling utama adalah untuk menjaga ekosistem permukaan planet bumi ini, oleh karena itu, dengan semakin banyaknya jumlah penduduk serta produk teknologi, fungsi lindung akan menjadi lebih penting dibanding dengan fungsi ekonomi yang diharapkan dari hutan. Dalam kondisi seperti itu, tidak mustahil bahwa fungsi ekonomi akan berubah menjadi hasil sampingan (side products) sedang hasil utama yang diharapkan dari hutan adalah fungsi perlindungan lingkungan.
Begitupun yang tampak di Kabupaten Gunung Kidul tidak hanya pembangunan kehutanan pada lahan kritis, lebih dari itu pembangunan yang tampak adalah sebuah design pembangunan wilayah, perubahan yang tampak secara kasat mata memperlihatkan pembangunan yang terintegrasi dan gradual yang dimulai dari pembangunan kehutanan yang telah menampakan hasil, sebagian lahan berbatu telah berhasil direhabilitasi menjadi lahan yang ditumbuhi vegetasi, tentu masyarakat Gunung Kidul tidak melakukannya sendirian, inisiasi teknologi rehabilitasi melibatkan akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, serta dukungan Pemerintah Daerah Gunung Kidul. Dengan tantangan alam yang keras disadari oleh masyarakat maupun pemerintah daerahnya untuk membangun Kabupaten Gunung Kidul adalah tidak mungkin tanpa diawali kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.
Kesadaran masyarakat yang tinggi untuk mendukung pembangunan kehutanan sebagai bagian dari pembangunan wilayah di kabupaten Gunung Kidul, telah mendorong masyarakat untuk terlibat secara penuh di dalam pengelolaan hutan, dengan beberapa hal yang menjadi ciri pokoknya :
a. Pembangunan kehutanan ditempatkan sebagai bagian (sub sistem) dari sistem pembangunan wilayah, karena kenyataanya bahwa pengelolaan hutan tak dapat dipisahkan dari pengaruh faktor sosial.
b. Karena titik (a) tersebut, maka tujuan pengelolaan hutan adalah untuk ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c. Untuk dapat merumuskan tujuan pengelolaan hutan yang relevandengan kondisi wilayah dan kepentingan masyarakat, maka prosedur perencanaan dimulai dari identifikasi masalah pembangunan wilayah dengan disertai informasi yang jelas (data kuantitatif). Prosedur perencanaan dimaksud tersebut merupakan perencanaan holistik karena memandang hutan sebagai bagian (sub sistem) dari sistem pembangunan wilayah.
d. Setelah masalah pembangunan wilayah dapat dirumuskan, langkah berikutnya adalah merumuskan sistem pengelolaan hutan yang dapat ikut menjawab masalah pembangunan wilayah tersebut. Untuk itu perumusan sistem pengelolaan hutan harus berusaha agar :
1) Memaksimumkan produksi kayu, termasuk kayu bakar, agar perusahaan hutan tetap dapat memperoleh keuntungan yang layak sehingga pengelolaan hutan dapat berjalan dengan sehat.
2) Memaksimumkan hasil hutan non kayu yang dapat digunakan untuk menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat di sekitar hutan.
3) Mempertahankan atau membina perananan hutan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup serta perlindungan terhadap sumber genetik asli, terutama yang sudah langka, baik flora maupun fauna.
Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan
Peran serta membangun hutan tanaman telah ditunjukan secara nyata oleh masyarakat setempat melalui pengembangan hutan tanaman rakyat yang dibantu melalui APBD (s.d tahun 2006) seluas 2.080 ha, APBN (s.d tahun 2006) seluas 5.095 ha melalui Program GERHAN, swadaya masyarakat melalui kegiatan penghijauan swadaya mencapai luas 22.476 ha dan peran serta BUMN Peduli Penghijauan seluas 500 ha.
Ditengah cerita rendahnya tingkat keberhasilan pelaksanaan penanaman GERHAN di beberapa daerah, Gunung Kidul justru menunjukan tingkat keberhasilan tanaman yang cukup tinggi, masyarakat menyadari GERHAN merupakan bagian pembangunan kehutanan yang akan memberikan keuntungan pada masyarakat, tidak hanya keuntungan finansial lebih dari itu adalah fungsi lindung, hal ini tentunya tidak sekedar karena Gunung Kidul merupakan titik awal pencanangan GERHAN yang ditandai oleh penanaman simbolis oleh Presiden Megawati dan Taufik Kiemas, tetapi lebih dari itu karena tantangan alam yang keras serta adanya kesungguhan masyarakat dan pemerintah daerahnya untuk membangun kehutanan sebagai sebuah Sumber Daya.
Kegiatan pembangunan kehutanan lainnya ditunjukan dengan program HKm yaitu kegiatan reboisasi di dalam kawasan hutan dengan luas 1.087,65 ha dari luas areal yang dicadangkan 4.168 ha dengan sasaran 35 kelompok tani HKm, dimana pada tahun 2003 dan 2004 telah mendapat izin sementara pengelolaan dari Bupati Gunung Kidul dalam jangka waktu 5 tahun. Kegiatan penghijauan sempadan pantai sepanjang 64,4 km, penghijauan lingkungan puncak seribu untuk melestarikan kawasan karst pengunungan seribu seluas 100 ha, penghijauan tanah AB seluas 500 ha dan penanaman pada lingkungan pendidikan melalui program Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM).
Sertifikasi pengelolaan hutan rakyat
Berbeda dengan hutan alam maupun hutan tanaman monokultur, hutan rakyat dikembangan dengan budidaya manusia yang sangat intensif. Hutan rakyat yang dimaksudkan disini ditanam campur dengan tanaman semusim penghasil pangan, sayur-sayuran maupun tanaman keras penghasil buah-buahan. Bergantung pada luas pemilikan lahan, tenaga kerja keluarga, pekerjaan pokok maupun sampingan, serta keadaan fisik lahan, hutan rakyat di daerah Gunung Kidul dapat dikelompokan menjadi tiga macam, yaitu (Munawar, 1984) :
1. Pohon-pohon hanya ditanam sepanjang batas lahan milik, sedang sebagian besar lahan ditanami dengan tanaman semusim, khususnya penghasil pangan.
2. Pohon-pohonan ditanam sepanjang batas lahan milik dan teras untuk mengendalikan erosi, dan diantara teras ditanami dengan tanaman semusim penghasil pangan atau sayur-sayuran.
3. seluruh bidang lahan ditanami dengan pohon-pohonan saja, karena tanahnya kurus, berbatu-batu, miring atau memang pemiliknya memiliki lahan yang cukup luas sehingga tidak tergarap.
Khususnya untuk bentuk hutan rakyat yang pertama dan kedua, berarti tanah relatif subur dan datar. Disini ada upaya pengerjaan tanah, yang dilakukan secara intensif oleh pemiliknya, yang sebenarnya hanya ditujukan untuk kepentingan tanaman semusim saja. Tetapi pengerjaan tanah yang menjaga aerasi tersebut, ditambah dengan masukan pupuk kimia maupun kompos, juga berdampak positif terhadap kesuburan pertumbuhan pohon-pohonan. Oleh karena itu, kualitas ekosistem hutan rakyat semakin lama malah akan semakin baik.
Keberhasilan dalam mewujudkan Pengembangan hutan rakyat lestari (HRL) di Kabupaten Gunung Kidul ditunjukan dengan diperolehnya Sertifikat Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari dari PT.TUV Internasional dengan standar Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) yaitu desa Kedungkeris kec. Nglipar, desa Dengok kec. Playen dan desa Girisekar kec. Panggang. Kegiatan Sosialisasi HRL terus ditingkatkan, pada tahun 2007 direncanakan pada 69 desa dan pada tahun 2008 direncanakan pada 72 desa. Untuk menuju Sertifikasi HRL program ini didukung dengan Pokja HRL yang melibatkan berbagai unsur : Pemerintah Daerah, LSM Tokoh Masyarakat dan Kelompok Tani. Keberhasilan ini didukung adanya pemberdayaan kelembagaan yaitu pemberdayaan aparatur melalui penataan kelembagaan, pemberdayaan masyarakat melalui penguatan kelembagaan dalam rangka peningkatan partisipasi masyarakat dalam RHL, sampai saat ini terdapat 821 kelompok tani hutan di kabupaten gunung kidul, peningkatan kerjasama dengan stakeholders seperti Perguruan Tinggi, LSM dan pihak-pihak swasta yang terwadahi dalam Pokja.
Permasalahan dan tantangan yang dihadapi
Pada kenyataannya dalam pembangunan kehutanan di kabupaten Gunung Kidul, terdapat beberapa kendala dan tantangan seperti :
1. Kondisi geografis dan iklim spesifik (bulan kering lebih panjang);
2. Kebutuhan hidup masyrakat relatif masih tergantung pada hasil hutan biasanya menebang pohon untuk dijual kayunya pada saat membutuhkan (tebang butuh);
3. Belum adanya pengaturan hasil hutan rakyat secara definif;
4. Terbatasnya pengetahuan, keterampilan dan permodalan kelompok tani dalm pengolahan hasil;
5. Masih banyaknya pengelolaan lahan oleh masyarakat yang tidak mengindahkan kaidah konservasi sebagai akibat kepemilikan lahan yang sempit;
6. Pengembangan hutan rakyat baru mencapai kurang lebih separuhnya dari potensi hutan rakyat seluas 50.144 ha.
Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi/mengurangi permasalahan yang ada, diantaranya dengan cara :
  1. Memprioritaskan lahan kritis sebagai sasaran kegiatan dengan pendekatan wilayah yang rawan kemiskinan dengan pengembangan tanaman bibit unggul;
  2. Menyusun dan melaksanakan pentahapan dalam pembangunan kehutanan Gunung Kidul yang meliputi : Asal Hijau (dengan tanaman kayu-kayuan jeins pionir), Hijau Plus (dengan bibit unggul bersertifikat, jenis kayu mewah) dan mandiri (masyarakat secara swadaya dapat mengelola SDH dan lahan secara lestari dan mandiri).
  3. Kerjasama lintas sektoral :
a. Kerjasama antara Dishutbun dengan Dinas pendidikan untuk memasukan masalah lingkungan (hutan dan kehutanan) dalam kurikulum Sekolah Dasar.
b. Kerjasama antara Dishutbun dengan Kantor Depag dengan membuat ketentuan bagi calon pengantin yang akan menikah, harus menyerahkan 5 bibit tanaman kepada pihak Balai Nikah untuk seterusnya penanamannya diatur oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gunung Kidul.
Hal ini tiada lain untuk membangun kesadaran masyarakat sejak dini akan pentingnya lingkungan hidup.
Oleh : Abdul Kodir Mancanagara